Sadio Mane Tidak ‘Mencuci Celananya Sendiri’ – Pelatih Malawi Mendakwa Penindasan AFCON

Kepala pelatih Malawi Mario Marinica sudah mencela keadaan yang ditemui teamnya diakomodasi Piala Afrika (AFCON) mereka dan merinci apa yang diyakininya jika ada bias sadar pada team “lebih kecil” dalam persaingan. The Flames akan hadapi Maroko di Stade Ahmadou Ahidjo, Yaounde pada laga set 16 besar Selasa, tapi penyiapan mereka sudah dikuasai oleh keracunan makanan, kekurangan bahan dasar, dan, menurut Marinica, kelangkaan sarana untuk membersihkan baju. Kepala pelatih Rumania, yang komentarnya ada di tengah-tengah dakwaan Gambia mengenai keadaan di bawah standard yang mereka temui, yakin jika favoritisme pada team yang semakin besar dalam persaingan membuat team yang semakin besar dirugikan.

“Anda tidak menyaksikan Sadio Mane membersihkan celana dalamnya sendiri dan menggantungnya di semak-semak sampai kering,” kata Marinica ke ESPN. “Gambia mempunyai permasalahan yang serupa, dan ada standard yang lain di sini, team diberlakukan secara berlainan.

“Kami bicara mengenai inklusi, kami ingin mempunyai team kecil, team kecil lakukan beberapa hal fenomenal, tapi saat sampai pada tahapan paling akhir, orang tidak sukai kami bermain menantang Cape Verde dan bukan Senegal menantang Maroko [misalnya].

“Pertanyaan tertentu harus disodorkan; kenapa ini terjadi pada kami, kenapa cuman pada team yang lebih kecil, kenapa cuman Komoro, Gambia, kami?”

Marinica menerangkan jika walau bajunya sudah dicuci, teamnya mau tak mau membersihkan sendiri, sementara staff hotel di Hotel Valle de Bana di Bafoussam tidak berhasil sediakan bahan dasar untuk team.

“Saya sudah minta teman-teman dan pimpinan team saya untuk ajukan keluh kesah sah,” sambungnya. “Saya mengeluhkan ke manager perkebunan, dan di [hotel] sekarang ini kami berusaha sepanjang 3 hari saat sebelum semua kelar.

Baca juga: http://bolakukus.com/news/minimal-6-meninggal-dalam-insiden-sesudah-kemenangan-kamerun-di-piala-afrika/

“Saya tidak dapat minum susu untuk kopi, mereka ngomong susunya habis sampai esok. Kami diberlakukan seperti masyarakat kelas dua, tapi bila Anda seorang manager hotel dan Anda menyaksikan ini terjadi, Anda bertanggungjawab, Anda tidak memungkinkan pada hari ini dan umur, di tingkat persaingan.

“Kami tinggal di sarana yang serupa awalnya dan saya kaget, kami tidak mempunyai cukup makanan, ada keluh kesah mengenai makanan, tapi kami masih tetap bersama, berusaha keras, masih tetap kuat dan akan sukses secara baik.”

Malawi alami permasalahan keracunan makanan dan kompleksitas virus corona saat sebelum laga, dengan Marinica mengeluhkan mengenai pemain yang muntah sebelum serta sepanjang laga sesudah konsumsi makanan di bawah standard. Ia menjelaskan ia yakin jika wasit di AFCON tidak dicintai teamnya, dan mendakwa bias yang serupa pada team yang semakin besar sebagai memfilter ke pimpin di kompetisi.

“Kejujuran di atas lapangan itu wajib,” ujarnya. “Wasit di laga paling akhir mainkan peranan besar dalam hasil seimbang kami dengan Senegal, di mana kami mendapatkan penalti yang terang, pemain didorong, diambil dan wasit tidak memberi apapun.

“Selanjutnya, wasit memberi offside saat ia semestinya mainkan keuntungan, seakan-akan kita ialah masyarakat negara kelas dua.”

Pemain tengah John Banda memperkuat kesaksian Marinica mengenai tindakan jelek team di Kamerun, dan minta Federasi Sepak Bola Afrika untuk pastikan semua team diberlakukan sama dengan.

“Baju kami belum dicuci, itu betul, dan kami hadapi beberapa permasalahan,” ucapnya ke ESPN. “Benar-benar sayang jika kami dipandang seperti tidak diunggulkan.

“Sebagai Afrika, kita perlu diberlakukan sama, sama dengan Senegal, Nigeria, semuanya sama. Ini ialah persaingan, tidak ada team yang ditanggung akan memenanginya, dan kita memerlukan tindakan dan keadilan yang serupa.” Malawi, yang bertanding di AFCON ke-3 mereka, tidak pernah capai set mekanisme luruh.

Leave a Reply