Apakah Mungkin Menjadi Petaruh Olahraga Yang Menguntungkan?

Apakah Mungkin Menjadi Petaruh Olahraga Yang Menguntungkan

Menjadi seorang petaruh olahraga yang menguntungkan adalah tugas yang maha sulit. Efisiensi pasar dan keunggulan informasi mudah terkikis secara cepat, berbeda dengan pasar saham. Apakah mungkin menjadi petaruh olahraga yang menguntungkan? Apa yang dapat dipelajari dari fund manager reksadana yang berkinerja buruk? Silakan baca terus untuk mengetahui hal ini.

Hipotesis Pasar Efisien

Hipotesis pasar efisien atau “efficient market hypothesis” (EMH) adalah teori ekonomi yang menyatakan bahwa informasi dalam pasar sepenuhnya tercermin oleh harga aset. Ini memastikan bahwa menciptakan laba “tidak biasa” secara konsisten melalui keterampilan, atau biasa disebut sebagai “mengalahkan” pasar menjadi tidak mungkin.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Pasar Saham

Ketika berbicara tentang efisiensi pasar, pasar saham mungkin adalah tempat yang paling relevan untuk dilihat. Hipotesis pasar yang efisien telah banyak dibahas dan dipelajari dan ada bukti yang cukup relevan dengan taruhan olahraga.

Namun, tidak seperti perdagangan saham jangka panjang, taruhan olahraga adalah “negative-sum game” atau permainan berjumlah negatif. Dengan kata lain, total keuntungan dikurangi kerugian di pasar adalah negatif karena adanya marjin keuntungan bandar. Bahkan untuk mempertahankan status quo (titik impas) seorang petaruh harus bisa “mengambil” dari petaruh lainnya.

Ini sangat berbeda dari investasi pasar saham umum di mana semua orang mungkin menang (dan pasar secara historis telah naik). Namun ada pelaku di pasar saham yang berperilaku tidak terlalu berbeda dengan petaruh, yaitu investor aktif.

Pengelola reksadana khususnya berupaya memberikan nilai kepada klien mereka dengan mengalahkan pasar. Biaya pengelolaan dana (management fee) yang terjadi pada praktek semacam itu hampir menyerupai margin yang diperoleh bandar. Investor yang mendapatkan return diatas rata-rata telah membayar biaya untuk melihat laba “tidak biasa”.

Namun dalam sebuah studi tolok ukur, seorang ekonom Amerika, Eugene Farma, menemukan bahwa hanya 2-3 persen pengelola reksadana teratas yang telah menunjukkan keterampilan yang cukup untuk menutup biaya mereka jika dibandingkan dengan pertumbuhan pasar secara umum. Selebihnya bahkan tidak bisa melakukan hal itu.

Seperti yang dikatakan Farma, “Kita tidak mengerti sifat negatif dari investasi aktif. Apa pun yang Anda menangkan, saya kalah. Apa pun yang saya menangkan, Anda kalah, dan kita berdua membayar untuk bermain di permainan itu ”.

Dengan kendala bekerja melawan margin (dalam hal ini biaya mereka sendiri), pengelola reksadana yang benar-benar mengalahkan pasar karena keterampilan menjadi sangat langka dan jumlahnya terus berkurang selama periode jangka panjang. Orang-orang ini dibayar hanya untuk keahlian investasi mereka.

Kasus Warren Buffet: Untung Di Pasar Yang Efisien

Jadi bukti menunjukkan bahwa dalam pasar yang benar-benar efisien, mengalahkan peluang tidak mungkin. Namun, salah satu investor terkenal berada di luar tren itu. Warren Buffet.

warren buffet - investor pasar saham

Sejak 1965, S&P 500 telah menghasilkan pengembalian tahunan rata-rata 9,7% (termasuk dividen). Dalam waktu yang sama reksadana yang dikelola Buffet, Berkshire Hathaway telah menghasilkan kenaikan harga saham rata-rata 20,8% per tahun, atau lebih dari dua kali lipat angka S&P 500.

Jadi jika pasar saham benar-benar efisien, bagaimana mungkin return yang dihasilkan Buffet “sedikit” lebih baik dua kali lipat daripada pertumbuhan pasar tahun demi tahun?

Mungkin salah satu jawabannya adalah dia sangat beruntung. Bisa jadi ada kemungkinan posisi Buffet sebagai investor legendaris hanyalah contoh ekstrem dari survivorship bias.

Meskipun tampaknya tidak mungkin seorang investor dapat menyamai prestasi Buffet, situs blog thinknewfound menemukan probabilitas sebesar 0,07% seorang investor dapat mencapai hasil sebagus Buffet atau lebih baik.

Namun, di sini kami lebih tertarik pada kemampuan Buffet untuk mengalahkan pasar, yang mengingat rekam jejaknya dan probabilitas rendah seorang investor individu dapat menyamai prestasinya. Besarnya selisih Berkshire mengalahkan pasar (rata-rata 12,24% per tahun) membuat kata “keberuntungan” menjadi penjelasan yang tidak masuk akal.

Ini menarik karena, jika kesuksesan Buffet bergantung pada keahlian, dalam pasar yang benar-benar efisien, seorang investor semacam dia seharusnya tidak pernah ada.

Apakah Pasar Taruhan Olahraga Efisien?

Yang menjanjikan bagi petaruh olahraga adalah umumnya interpretasi Hipotesis Pasar Efisien tidak mengklaim bahwa harga saham benar setiap saat, melainkan hanya bahwa harga rata-rata benar. Fakta bahwa ada perusahaan reksadana taruhan olahraga menunjukkan bahwa ada inefisiensi untuk dieksploitasi di pasar taruhan olahraga.

Tidak seperti para pialang saham yang dapat melenggang santai memanfaatkan dorongan pertumbuhan pasar saham, jika reksadana taruhan olahraga ini tidak berkinerja baik maka mereka akan benar-benar kehilangan uang klien mereka.

Untuk menghasilkan untung, reksadana ini harus secara konsisten mengalahkan “closing line” pasar taruhan, yang menunjukkan ada ruang untuk menemukan keunggulan dengan selisih antara harga (odds) pembukaan dan penutupan.

Apakah Ada Harapan Untuk Petaruh Biasa Menemukan “Advantage”?

Untuk mendapatkan keuntungan dalam pasar efisien seperti taruhan olahraga, seorang petaruh kemungkinan harus memiliki keunggulan informasi dibandingkan dengan seluruh pasar atau memiliki interpretasi yang lebih baik dari informasi yang tersedia secara luas.

Masalah untuk petaruh biasa adalah bahwa ketika bertaruh pada permainan yang sangat populer mereka melawan pihak-pihak yang memiliki banyak informasi. Odds sering digerakkan oleh mereka yang paling tahu informasi dibalik layar, membuat segalanya sulit bagi petaruh biasa.

Namun, ini tidak berarti petaruh biasa harus mundur dari usahanya untuk mencoba untuk menciptakan keunggulan jangka panjangnya sendiri. Warren Buffett sendiri mengklaim telah diuntungkan dari bersaing melawan “musuh yang telah menganggap bahwa berpikir adalah pemborosan energi”. Selalu ada peluang bagi mereka yang gigih mencari.

Share this:

Leave a Reply