Masihkah Solksjaer Manajer MU Tahun 2021!?

Manchester United klub besar Inggris baru saja takluk dari klub Turki, Istanbul Basaksehir dengan skor 2-1. Ini bukan kali pertama di musim ini MU kalah dari klub yang di atas kertas berada di bawah mereka. Pertandingan pertama liga Inggris saja MU sudah kalah dari Crystal Palace 1-3. Pelatih MU Ole Gunnar Solksjaer menggunakan alasan persiapan yang mepet menjadi penyebab utama kekalahan tersebut. Hal yang bisa diterima mengingat MU cuma memiliki waktu persiapan kurang dari satu bulan dari musim 2019/20 ke musim 2020/21. Namun setelah minggu ke tujuh sejak liga Inggris berjalan, MU masih mencatatkan torehan yang sangat buruk. Di liga Inggris dengan sudah menjalani enam laga MU berada pada posisi lima belas dengan poin tujuh. Bila dilihat laga-laga yang sudah dijalani MU kalah dari klub Crystal Palace, Tottenham Hotspur dan Arsenal. MU menang dari klub Brighton, Newcastle dan imbang dengan Chelsea. Di liga champions MU menang melawan PSG, RB Leipzig dan kalah dini hari dengan Istanbul Basaksehir. Kemenangan melawan PSG dan Leipzig menimbulkan pertanyaan mengapa MU bisa menang melawan tim kuat liga Prancis dan liga Jerman dengan skor meyakinkan, tetapi kalah dari klub seperti Crystal Palace.

Setelah berjalan beberapa lama satu alternatif jawabannya adalah MU hanya bisa bermain efektif ketika menggunakan taktik serangan balik cepat. Ketika melawan klub yang bermain sabar atau bertahan MU akan kesulitan. Contoh kasus untuk argumen ini adalah ketika MU bermain melawan Crystal Palace, Brighton, Newcastle, Tottenham, Chelsea dan Arsenal. Semua laga liga yang sudah dijalani melawan keenam tim di atas, semuanya bermain bertahan dan bermain sabar (Chelsea dan Arsenal). MU tidak bisa memegang dominasi pada pertandingan-pertandingan ini. MU menang dalam hal possession bola terutama melawan tiga tim yang bertahan (Crystal Palace, Brighton, Newcastle) tetapi praktis tidak banyak menciptakan peluang yang berarti. Melawan Brighton, MU menang karena nasib sial dari Brighton, melawan Newcastle MU menang pada menit-menit akhir, disiplin pertahanan Newcastle runtuh. Melawan Chelsea praktis kedua tim tidak menciptakan banyak peluang, demikian juga dengan Arsenal.

Namun ketika melawan PSG dan Leipzig, MU tidak dominan dalam possesion tetapi bisa menciptakan peluang-peluang matang dengan mengandalkan kecepatan pemain-pemain seperti Rashford dan Greenwood. Hal ini bisa terjadi karena MU bermain menunggu dan menggunakan serangan balik cepat. Bisa demikian karena PSG memiliki materi pemain lebih unggul. Finalis liga champions musim lalu ini bermain dengan inisiatif menyerang. Demikian pula RB Leipzig, melawan MU seperti sebagaimana biasa, tim asuhan Julien Nagelsmann ini bermain menyerang dengan pressing tinggi. Menghadapi lawan seperti ini Solksjaer bisa menghadapi dengan baik.

Argumen bahwa Solksjaer hanya bisa bermain serangan balik menjadi lebih valid ketika menjalani laga dini hari tadi melawan Istanbul Basaksehir. Praktis Istanbul bermain bertahan dan menunggu saat tepat untuk menyerang. MU yang harus melakukan inisiatif serangan begitu kesulitan menembus pertahanan Istanbul, bahkan untuk masuk ke kotak penalti lawan. Gol pertama Istanbul adalah hasil umpan cepat dari belakang langsung ke penyerang Demba Ba yang dilakukan setelah skema serangan MU gagal. Hanya ada Nemanja Matic di lini belakang MU dan dia gagal mengantisipasi gerakan Demba Ba.

Setelah sekian lama rasanya sudah cukup valid menjelaskan bahwa Solksjaer hanya memiliki satu taktik dalam bermain, yaitu memanfaatkan kecepatan pemainnya. Solksjaer tidak seperti pelatih-pelatih hebat tidak bisa mengubah taktik permainan disesuaikan dengan lawan. Kalau disimak dengan baik taktik menyerang balik dengan mengandalkan kecepatan adalah tepat digunakan oleh tim papan tengah ke bawah. Sebagai klub besar dengan pemain-pemain mahal rasanya wajar bila dikatakan mayoritas lawan akan bermain bertahan atau bermain sabar kalau berhadapan dengan MU. Artinya sebaliknya, seharusnya Solksjaer menguasai taktik serangan dengan sabar atau serangan dengan menguasai bola, bukan justru hanya menguasai taktik serangan balik. Bila berlangsung seperti ini terus, bukan tidak mungkin Woodward akan melihat memiliki Solskjaer sebagai manajer MU tidak cocok untuk jangka panjang. Solksjaer sudah cukup lama menangni MU dan kenyataannya dia kekuarangan hal yang basic, penguasaan taktik. Tidak heran apabila Solksjaer akan diganti sebelum tahun 2021, dan suara-suara Ole Out juga sudah semakin sering didengungkan oleh penggemar MU. Kita tunggu saja kelanjutannya.

Share this:

Leave a Reply