Leicester City Berpeluang Menjadi Juara Musim 2020/21

Pertandingan minggu kedelapan liga Inggris yang mempertemukan dua tim kuat Man City vs Liverpool berakhir imbang 1-1. Babak pertama menampilkan pertandingan seru dengan energi tinggi. Liverpool unggul duluan melalui titik penalti pada menit ke 13. Kyle Walker melanggar Sadio Mane di kotak terlarang. Man City menyamakan kedudukan pada menit 31 melalui gol Gabriel Jesus hasil umpan dari Kevin De Bruyne. Man City mendapatkan penalti pada menit 42 namun tidak berhasil dikonversi menjadi gol oleh Kevin de Bruyne. Babak pertama berakhir dengan skor 1-1. Pada babak kedua kualitas pertandingan menurun drastis, faktor kelelahan diyakini menjadi penyebabnya. Melalui wawancara setelah pertandingan Jurgen Klopp mengungkapkan padatnya jadwal menjadi penyebab pemain lelah dan intensitas pun menurun. Ditekankan lagi oleh Klopp, bek kanan Trent Alexander-Arnold mengalami cedera pada menit 63 adalah efek dari padatnya jadwal tersebut. Dengan melihat jadwal pertandingan yang telah dijalani Liverpool, maka didapati Liverpool telah memainkan 13 laga kurang dari dua bulan. Liverpool memulai liga Inggris melawan Leeds United pada tanggal 12 September, dan sejak itu dengan laga liga, carabao cup dan champions league, Liverpool sudah bermain 13 laga sampai pertandingan tanggal 8 November. Ditambah dengan ajang UEFA Nations League untuk pemain tim nasional di Eropa. Barangkali bukan hal berat kalau persiapan peralihan musim dijalani dengan normal. Seperti diketahui akibat wabah covid19 semua klub harus melalui peralihan musim lebih singkat dibanding biasanya. Dan bagi klub yang masih bermain di liga Eropa pada musim lalu, waktu peralihan musim yang dimiliki terutama lebih singkat dibanding lainnya. Tidak heran apabila setelah pertandingan kemarin, Klopp menekankan padatnya jadwal yang mereka miliki sudah memakan korban dan akan bertambah kalau beberapa hal tidak diubah. Pelatih Man City, Pep Guardiola juga mengaminkan hal yang sama. Guardiola turut mengomentari cederanya Alexander-Arnold dan meyakini tim nya juga memiliki resiko yang sama. Sebelumnya pelatih Man United, Ole Gunnar Solksjaer juga mengeluhkan hal yang sama. Sebagaimana diketahui dalam laga melawan Everton, MU harus kehilangan Luke Shaw akibat cedera hamstring dan Rashford juga ditarik pada akhir babak kedua karena benturan pada kakinya. Ketiga manajer tim ini mengungkapkan keinginan yang sama agar liga Inggris memakai sistem pergantian sampai lima pemain.

Sebagaimana diketahui pada saat liga dilanjutkan kembali setelah lockdown covid19 musim lalu, liga di eropa menggunakan pergantian sampai lima pemain untuk menyesuaikan dengan jadwal pertandingan yang dipadatkan. Setelah musim 2019/20 tersebut berakhir, sebagian besar liga besar di Eropa masih menerapkan aturan pergantian lima pemain kecuali Inggris. Keputusan FA Inggris kembali menetapkan pergantian tiga pemain mendapat kritik dari beberapa manajer. Kritik tersebut semakin sering terdengar sejalan dengan beberapa klub kehilangan pemain karena cedera. Setelah laga minggu kedelapan liga Inggris ini, UEFA kembali menggelar penyisihan Nations League 2020/21. Tentunya klub seperti Liverpool dan Man City maupun MU memiliki pemain-pemain yang juga bertugas untuk klub negara masing-masing. Jika Alexander-Arnold kemarin tidak cedera dirinya pasti dipanggil oleh Gareth Southgate untuk bergabung dengan tim nasional Inggris. Dengan demikian ‘keluhan’ tiga manajer, Liverpool, Man City dan Man United cukup memiliki landasan. Bila kondisi tetap berlanjut dimana FA masih akan menggunakan aturan pergantian sampai tiga pemain, tim-tim besar memiliki beban dan resiko pemain lebih besar mengalami kelelahan dan cedera. Tentunya menjadi peluang tersendiri bagi beberapa klub untuk mencoba peruntungan merebut gelar juara liga. Tidak heran juga, penghuni posisi teratas klasemen sementara musim 2020/21 saat ini sudah berganti antara Everton, Liverpool, Southampton, Tottenham dan kini Leicester City. Setidaknya dari sini saja sudah terlihat bahwa tidak seperti musim sebelumnya, musim 2020/21 kemungkinan untuk muncul juara baru lebih terbuka. Kali ini bukan karena klub-klub besar liga Inggris lagi mengalami transisi tapi lebih karena ketidaknormalan jadwal bermain akibat efek covid19 pada musim lalu.

Leicester City menjadi juara pada musim 2015/16 dibarengi dengan klub papan atas tradisional liga Inggris sedang mengalami transisi. Arsenal sedang dalam performa tidak konsisten di bawah Arsene Wenger, demikian juga Man City di bawah Manuel Pellegrini dan Man United di bawah Louis Van Gaal. Chelsea memecat Mourinho pada pertengahan musim dan digantikan sementara oleh Guus Hiddink. Adapun Liverpool baru saja ditangani oleh Jurgen Klopp. Kondisi tersebut dibarengi dengan Leicester City yang memiliki performa starting eleven yang bagus. Saat itu Leicester City tidak memiliki kedalaman tim namun akhirnya tidak menjadi masalah. Pesaing terdekat Tottenham gagal menyalip karena juga memiliki kekurangan yang sama, kedalaman tim. Kembali untuk situasi musim 2020/21, klub-klub besar tadisional liga Inggris itu sedang memiliki masalah seperti pada musim 2015/16. Ini adalah saat yang tepat bagi klub seperti Leicester City kembali menargetkan juara. Leicester City tidak bermain di Eropa pada musim lalu sehingga praktis lebih fresh dibanding klub-klub besar itu. Musim ini Leicester City ikut dalam ajang Europa League, adapun kedalaman tim saat ini dinilai lebih baik dibanding musim 2015/16. Saat ini Leicester City berada di puncak klasemen sementara dengan keunggulan satu poin dari Liverpool. Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers apabila mampu mengatur jadwal pertandingan Leicester City dengan optimal, memiliki peluang yang bisa jadi tidak akan muncul di musim-musim depan. Selain Leicester City, tim lain seperti Aston Villa, Everton, Southampton dan Tottenham Hotspur bisa menjadi kandidat lainnya. Kita tunggu saja bagaimana Leicester City menjalani musim ini dengan peluang langka seperti tergambar sampai minggu kedelapan liga Inggris musim ini.

Share this:

Leave a Reply