Perkenalkan Thomas Grønnemark! Pelatih Lemparan-Ke-Dalam Liverpool

Ketika Liverpool mengangkat trofi Liga Primer Inggris ke langit malam yang diterangi kembang api pada akhir Juni 2020, salah satu staf mereka sedang menonton dari Denmark. Thomas Grønnemark, pelatih lempar Liverpool, sedang minum dari mug Liverpool-nya – suvenir yang dia kumpulkan dari berbagai klub tempat dia dipekerjakan – dan merasakan kebanggaan pribadi yang luar biasa.

Jurgen Klopp diejek ketika dia membawa Grønnemark pada tahun 2018. Mereka yang ragu mengatakan lemparan ke dalam adalah bagian dasar dari sepak bola – cari teman, lemparkan ke mereka. Mengapa berinvestasi pada pelatih lempar? Tapi Klopp berpikir berbeda, dan Grønnemark, sebelum Klopp menelepon, menghabiskan 14 tahun sebelumnya meyakinkan bahwa sepak bola memiliki apresiasi yang salah tentang aspek permainan yang satu ini.

Gronnemark Liverpool

Hasil dari kerja Grønnemark membungkam mereka yang meragukannya. Liverpool mencetak 14 dari 85 gol Liga Primer mereka dari situasi lempar ke dalam di musim 2019-2020, musim Liverpool menjadi juara. Sekarang metoda Grønnemark menjadi banyak diminati. Impiannya untuk mengubah sepakbola mulai menunjukkan hasil. “Situasi melempar ke dalam telah beralih dari sekedar hal yang harus dilakukan menurut aturan sepakbola sekarang telah dikembangkan menjadi sesuatu yang fantastis dan menghibur bagi para penggemar.”

Ketika anggota pendiri Asosiasi Sepak Bola bertemu pada tahun 1863 untuk menyusun aturan sepak bola, lemparan ke dalam tidak mendapatkan fokus. Siapa pun pemain yang mendapatkan bola pertama kali dapat melemparkannya kembali. Setelah 10 tahun dan 11 revisi kemudian aturan lemparan ke dalam sudah seperti sekarang ini kecuali posisinya harus tegak lurus terhadap garis lapangan. Dan pada tahun 1877 peraturan lempar ke dalam berubah seperti yang kita kenal sekarang.

Lebih dari seabad kemudian dan Grønnemark masih terkejut dengan betapa sedikitnya perhatian klub-klub besar dunia terhadap aspek ini. “Lemparan ke dalam sangat besar dalam sepak bola,” kata Grønnemark. “Sepakbola telah dimainkan selama 140 tahun dan sepanjang waktu itu lempar ke dalam hanya sekedar memasukkan kembali bola ke lapangan”.

“Hal yang menakutkan adalah Anda masih melihat klub-klub besar di Liga Primer, Bundesliga dan Liga Champions, melakukan itu – mereka tidak memiliki pelatih lempar”.

“Itu hal terburuk yang bisa Anda lakukan dalam sepakbola.”

Grønnemark sedang berbicara melalui Zoom dari rumahnya di Denmark; COVID-19 membatasi sejumlah rencana kepelatihannya tetapi dia tetap bekerja secara online, membimbing kliennya melalui rencana lemparan tiga poinnya. “Filosofi saya disebut jauh, cepat, lemparan ke dalam yang cerdas,” katanya. Saat kita berbicara, dia sedang menggenggam cangkir TinTin (keduanya memiliki kemiripan yang luar biasa). “Saya tidak ingin menunjukkan favoritisme,” dia tertawa. Dia telah bekerja dengan Liverpool sejak 2018 sementara dari resume kepelatihannya, atau akun Twitternya, menunjukkan bahwa dia juga menghabiskan waktu dengan Ajax, RB Leipzig, Atlanta United, KAA Gent dan FC Midtjylland.

Gronneark Gent

Perjalanan kepelatihannya sendiri dimulai pada tahun 2004, ketika ia menjalani masa empat tahun sebagai anggota tim kereta luncur ‘bobsled” Denmark. Pada saat itu juga, dia sudah mencoba menjadi pesepakbola profesional – bermain di tim Denmark U-19 yang sama dengan Thomas Gravesen – tetapi kurang berhasil dan beralih ke atletik menjadi sprinter dan kemudian menjadi atlet ‘bobsled’. Dia juga mengasah teknik lemparan ke dalam dan mengamankan Rekor Dunia Guinness pada tahun 2010 untuk lemparan ke dalam terjauh (51,33 meter). Dia ingat pergi ke perpustakaan untuk mempelajari lebih lanjut tentang teknik lemparan ke dalam tetapi tidak dapat menemukan apa pun tentang topik tersebut, jadi selama enam bulan pada tahun 2004 dia mengembangkan tekniknya, memfilmkan tutorial dan membuat kursusnya sendiri.

Dalam satu pertandingan sepakbola biasanya ada antara 40 dan 60 lemparan ke dalam, katanya. “Sebagian besar pemain atau tim kehilangan bola di lebih dari 50% kesempatan ketika mereka melakukan lemparan ke dalam di bawah tekanan, dalam penjagaan lawan. Saya memberi tahu para pemain, jika Anda memiliki persentase yang sama dengan kaki Anda, maka Anda hanya bermain sepak bola liga Minggu! (amatir:red)”

Saat dia mencari klien pertamanya, awalnya dia melihat-lihat ke tim amatir lokal tetapi mengumpulkan keberanian untuk mendekati klub Liga Super Denmark Viborg, dan setelah bekerja meningkatkan kualitas lemparan ke dalam mereka, kemudian dia didekati oleh FC Midtjylland, tempat dia bekerja untuk enam tahun ke depan.

Ketika Andreas Poulsen pindah dari Midtjylland ke Borussia Monchengladbach pada musim panas 2018, Grønnemark men-tweet pesan ucapan selamat untuknya. Dia telah bekerjasama dengan bek kiri Denmark itu dan meningkatkan kemampuan lemparannya dari 24,25 meter menjadi 37,9 meter. Tweet tersebut menarik perhatian seorang fanzine, yang membuat sebuah fitur untuk Grønnemark, dan dari sana surat kabar Jerman Bild menghubunginya untuk melakukan hal yang sama. Jurgen Klopp membaca artikel itu dan menelepon Grønnemark untuk mengundangnya datang ke tempat latihan Liverpool di Melwood dan mengajarkan ke semua staf yang dia ketahui tentang lemparan ke dalam.

Klopp frustrasi dengan rekor lemparan ke dalam Liverpool; Musim 2017-18 Liverpool berada di urutan ke-18 dari 20 tim Liga Primer dalam mempertahankan lemparan ke dalam ketika di bawah tekanan.

Grønnemark ingat pertemuan pertamanya dengan para pemain. “Saya berkata kepada mereka, ‘Saya tidak akan mengubah Anda menjadi Stoke edisi II,’ itu berarti kami tidak akan mulai melakukan banyak lemparan jauh, bukan itu cara saya bekerja. Kemudian Jurgen Klopp berkata ‘kita memiliki musim yang bagus di musim 2017-2018 tetapi kita benar-benar buruk dalam lemparan ke dalam – saya telah mengundang Thomas untuk membantu kita dan saya 100 persen yakin kita bisa improve. ‘”

Semusim kemudian, Liverpool meningkatkan retensi lemparan mereka ketika di bawah tekanan dari 45,4% menjadi 68,4% dan meningkat dari posisi 18 di klasemen menjadi yang pertama di Liga Primer – kedua di Eropa di belakang tim Grønnemark yang lain, FC Midtjylland. Grønnemark enggan memilih gol yang dia banggakan – dia tidak ingin membocorkan rahasia dibalik itu semua. Tapi dari musim lalu ada dua yang telah dianalisis dengan baik: gol Roberto Firmino melawan Wolves pada 23 Januari dan gol pembuka Firmino melawan Tottenham pada 11 Januari.

“Ketika saya bertemu dengannya, 100% yakin saya ingin mempekerjakannya,” kata Klopp tentang Grønnemark pada musim 2018-19. “Anda tidak akan pernah merasa cukup memiliki spesialis di sekitar Anda. Saya harus membuat keputusan tentang kapan kami menggunakannya, tetapi Anda tidak boleh merasa cukup.”

“Dia sudah melakukannya [dia membuat perbedaan], hal itu bagus, para pemain menyukainya. Seseorang yang tahu apa yang dia bicarakan, selalu membantu ketika Anda ingin meningkatkan sesuatu.”

Grønnemark mengatakan butuh keberanian dari Klopp untuk berpikir di luar kotak dan mempekerjakannya. “Ada banyak orang yang skeptis. Ketika saya pergi ke Liverpool banyak penggemar berkata, ‘Oh, itu benar-benar gila, hal-hal aneh’. Anda harus berani menerima saya seperti saya. Jurgen Klopp benar-benar berpikiran terbuka, dia melihat kelemahan klub dan bisa memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini di dalam diri mereka sendiri, tetapi dia memutuskan untuk memasukkan saya.

“Itu menunjukkan betapa dia adalah pemimpin [dan] Anda harus memiliki kesabaran, dan mampu mendengarkan. Dia pendengar yang fantastis, pembicara yang fantastis dan pria yang fantastis. Saya ingat pertemuan pertama di Melwood – saya ingat bagaimana banyak yang dia dengarkan. Dia bisa saja mengatakan kepada saya, ‘Oke, kita telah melakukan hal-hal ini sebelumnya, dapatkah Anda memolesnya?’ Tidak, dia malah bertanya, ‘Ceritakan semua yang kamu tahu.’ Itu adalah seorang inovator – menjadi inovatif tidak hanya memiliki ide-ide hebat dan menceritakannya kepada orang-orang, tetapi juga memiliki kesabaran diri dan terbuka terhadap pemikiran baru. Itulah mengapa menurut saya banyak orang dapat belajar darinya dalam kehidupan sehari-hari. ”

Dia mengatakan metode yang dia gunakan 90-95% berfokus pada pekerjaan “mekanis, teknis”, daripada pengkondisian. “Para pemain [Liverpool] menerima sejak awal,” kata Grønnemark. “Jika Anda berbicara dengan pemain dan bertanya apakah mereka lebih suka bermain dengan tangan atau kaki mereka, mereka semua akan mengatakan kaki – itu wajar. Tapi begitu Anda memberi mereka ‘mengapa’ di awal pelatihan sebagai motivator. Kemudian Anda berhasil memberikan semacam kompetisi terhadap itu, fokus pada pergerakan dan penciptaan ruang. ”

Rencana tiga poin yang dia hasilkan mudah dipahami tetapi dikemas dengan detail. Bagian lemparan ke dalam jauh membahas jangkauan yang bisa dicapai pemain. Dengan Andrew Robertson, bek kiri Liverpool, Grønnemark meningkatkan jarak lemparan ke dalam dari 19 meter menjadi 27 meter – “itu peningkatan dalam area lemparan ke dalam 500 meter persegi”. Dengan aspek lemparan ke dalam cepat, yang bekerja dengan pemain untuk menentukan kapan harus segera melempar, atau lebih baik menunggu. “Terkadang sangat bodoh untuk melempar cepat jika Anda melempar bola kepada teman yang sedang dalam tekanan.” Di kesempatan lain, lemparan ke dalam cepat bisa menjadi katalis untuk serangan balik. Untuk bagian ‘lemparan ke dalam’: “Begitulah cara kami menciptakan ruang di sekitar lapangan dengan gerakan tertentu.

Andy Robertson

“Bagi saya itu jauh lebih berbahaya daripada, katakanlah, buku pedoman sepak bola Amerika, karena jika Anda membaca pedoman itu, Anda akan tahu apa yang akan terjadi.

“Tapi tidak, terkadang saya melihat dua atau tiga pemain melakukan sesuatu untuk menciptakan ruang tertentu – itu benar-benar cerdas. Bagi orang yang tidak memiliki pengetahuan itu, sepertinya mereka bergerak, tetapi kenyataannya, mereka ‘ sedang melihat ruang, waktu dan sudut, hal-hal seperti itu. ”

Grønnemark tahu ada orang yang menganggap pekerjaannya adalah sebuah kemewahan atau, paling buruk, berlebihan. “Kritik tidak masalah bagi saya. Tetapi jika orang mengolok-olok, tetapi tidak memiliki pengetahuan, saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Tetapi jika orang-orang penasaran, tetapi tidak memiliki pengetahuan dan bertanya bagaimana cara kerjanya, saya sangat senang menjelaskan kepada mereka. Semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin banyak hal menarik yang dapat kita bicarakan.”

Dia juga kurang setuju dengan teori lemparan ke dalam adalah hal yang tidak terlalu penting, hanya masuk dalam ‘keuntungan marjinal’ yang bisa diraih dalam sepakbola (teori yang berasal dari bersepeda di mana tim akan berusaha untuk mendapatkan percepatan nanodetik dengan mengadaptasi aerodinamika atau bahkan menghilangkan rambut-rambut di tubuh). “Jika Anda melihat waktu yang dihabiskan untuk lemparan ke dalam adalah sekitar 15 menit sampai 20 menit dalam satu pertandingan sepakbola, maka hal ini jelas bukan marjinal”

Grønnemark berharap karyanya akan membuat orang yang skeptis berpikir dua kali untuk mempertanyakan pentingnya lemparan ke dalam dalam sepakbola. “Saya pikir penggemar sepak bola akan melihat lemparan seperti yang mereka lakukan di bola basket – di mana mereka menciptakan ruang untuk satu sama lain – karena penggemar basket menghargai penciptaan ruang karena mereka tahu apa yang akan atau mungkin akan terjadi. Ketika para penggemar sepakbola memiliki pengetahuan itu, mereka akan menganggapnya lebih menarik. ”

Begitu perjalanan menjadi lebih mudah, terkait covid19, ia akan kembali berkeliling dunia, membagikan ilmunya. Dia telah menandatangani kontrak dengan Liverpool untuk satu musim lagi dan berharap untuk kembali bekerja dengan Klopp. Sebagai salah satu dari sedikit yang cukup beruntung untuk melihat cara kerja di Melwood, dia merasa kebersamaan mereka adalah salah satu alasan mengapa mereka berhasil menikmati kesuksesan baru-baru ini. “Mereka sangat pintar membantu satu sama lain,” kata Grønnemark. “Para pemain suka menekan hingga menit ke-97 [dari sebuah pertandingan] dan Anda dapat melihatnya dengan lemparan ke dalam. Ini bukan tentang, ‘Saya’ harus mendapatkan bola, ini tentang ‘kami’ harus mendapatkan bola. Saya pikir semua orang yang bekerja bersama adalah bagian besar dari kesuksesan mereka di Liverpool. ”

Jika Anda memberi tahu Grønnemark pada tahun 2004 ketika dia memulai perjalanan ini, dia akan membantu Liverpool meraih gelar Liga Primer, dia akan tersenyum, tetapi tidak terkejut. “Saya memiliki pengetahuan, saya memiliki data, saya memiliki bukti. Itu adalah pertanyaan tentang kapan kesempatan itu akan datang. Saya selalu 100 persen yakin saya akan melatih di klub Liga Primer; itu selalu menjadi impian terbesar saya.”

Dia sangat bangga menjadi yang terdepan dalam tumbuhnya kesadaran akan lemparan ke dalam dan perannya sendiri dalam kesuksesan Liverpool. Tetapi meskipun dia memiliki cangkir dari perjalanannya ke Liverpool – terkadang sebanyak dua atau tiga sesi seminggu – dia belum menerima medali.

“Saya tidak tahu apakah saya mendapatkannya,” kata Grønnemark. “Tapi, sejujurnya, itu tidak penting. Hal terpenting bagi saya adalah saya telah membuat perbedaan untuk tim, untuk klub. Dan itu adalah medali terbesar bagi saya. Saya akan senang mendapatkannya, tapi tahukah Anda, hal lain itulah yang lebih berarti bagi saya.”

sumber: espn.com

Share this:

Leave a Reply