Manchester United Masih Jauh Dari Kemungkinan Juara

Liga Inggris musim 2020/21 sudah memasuki minggu ketujuh, banyak kejutan yang sudah terjadi melibatkan hasil pertandingan klub-klub kuat. Dari awal sudah ada hasil yang tidak terduga seperti MU kalah dengan Crystal Palace, Man City kalah dari Leicester City dan terutama liverpool kalah dari Aston Villa. Ketiga tim kuat itu kalah dari lawannya dengan skor meyakinkan. Bisa saja jadwal yang  tidak seperti biasanya pada musim lalu menjadi penyebab klub-klub ini mengalami kekalahan tidak terduga. Klub-klub yang mengikuti banyak kompetisi, terutama yang masih lolos dari babak perempatfinal kompetisi Eropa, harus bermain dengan jadwal yang super padat.

Liverpool, juara liga Inggris 2019/20 ini terakhir bermain kompetitif musim lalu tanggal 26 Juli 2020 pada laga terakhir liga Inggris, dan memulai musim 2020/21 dengan laga community shield kontra Arsenal pada tanggal 29 Agustus 2020. Sedangkan Manchester City, terakhir bermain pada laga semifinal FA Cup melawan Arsenal pada tanggal 19 Juli 2020. Man City memulai laga Liga Inggris musim 2020/21 pada tanggal 22 Sept 2020 melawan Wolves. Sementara Man United terakhir bermain kompetitif musim lalu pada tanggal 17 Agustus 2020 pada ajang semifinal Europa League melawan Sevilla. MU memulai liga musim 2020/21 pada tanggal 19 September 2020.

Dengan demikian praktis ketiga klub hanya memiliki waktu rehat dan persiapan menjelang musim 2020/21 sekitar dua bulan. Terutama Man United hanya memiliki waktu satu bulan untuk transisi dari musim 2019/20 ke musim 2020/21. Normalnya liga Inggris memberikan waktu tiga bulan untuk klub bertransisi ke musim baru. Musim 2019/20, misalnya, dimulai pada tanggal 10 Agustus 2019, setelah mengakhiri musim 2018/19 pada tanggal 12 Mei 2019.

Pelatih Man United Ole Gunnar Solksjaer (Ole) juga menggunakan alasan yang sama ketika tim nya harus kalah pada laga pertama melawan Crystal Palace dengan skor 1-3. Laga berikutnya juga nyaris dipermalukan oleh Brightion kalau saja pemain Brighton tidak sampai lima kali mengenai mistar gawang. Minggu-minggu kemudian alasan kurangnya persiapan sudah tidak valid digunakan, tetapi MU masih bermain tidak bagus.

Empat laga kandang MU musim 2020/21 ini tiga laga berakhir dengan kekalahan dan satu hasil seri. Tidak bisa dipungkiri, Ole tidak mendapatkan pemain yang diinginkan pada bursa transfer menjadi salah satu faktor buruknya permainan MU. Tercatat Jadon Sancho, Jack Grealish, Dayot Upamecano, Erling Haaland, tidak satupun yang berakhir menjadi pemain MU.

Namun kalau dilihat dari pertandingan yang sudah dijalani, permasalahan sebenarnya terletak pada kemampuan Ole menerapkan taktik dalam permainan. Man United bila dilihat, menang melawan tim kuat seperti PSG dan RB Leipzig di ajang liga champions. Man United kesulitan dalam melawan Crystal Palace, Brighton dan Newcastle United. Memang melawan Newcastle skor nya menggambarkan menang telak 1-4, tetapi dilihat dari permainan, tiga gol terakhir tercipta hanya dalam beberapa menit saja. Ini lebih kepada kolapsnya pertahanan Newcastle dibandingkan briliannya permainan MU.

Jadi apa yang terjadi!? Melawan tim kuat PSG dan RB Leipzig, MU menang meyakinkan, sementara melawan tim papan tengah ke bawah liga Inggris MU acap kali kesulitan. Jawabannya ada pada taktik yang digunakan. Melawan tim kuat yang berani menyerang dan menerapkan pertahanan tinggi, MU bisa melibas lawannya karena menerapkan taktik serangan balik. Memanfaatkan kecepatan sayap dan penyerang, seperti Rashford, Martial, dan Greenwood, lawan yang mengepung MU siap-siap dicounter apabila kehilangan bola. Hal ini sangat nyata dalam laga dengan RB Leipzig, gol Rashford adalah tidak offside karena dia memulai berlari dari lapangan sendiri.

rashford MU

Semua pemain bertahan Leipzig ada di dekat garis tengah lapangan. Ini adalah ciri bermain tim yang punya filosofi menyerang habis-habisan. Hansi Flick di Bayern Munich juga menggunakan taktik ini. Bila lawan ingin mendominasi dan mengepung, taktik yang digunakan Ole adalah mumpuni. Ada Bruno Fernandes yang bisa segera melakukan umpan jauh atau umpan terobosan dengan Rashford cs di depan berlari kencang menyongsong bola.

Sebaliknya apabila lawan menggunakan taktik bertahan, seperti Crystal Palace, atau bermain sabar, seperti melawan Chelsea dan kemarin melawan Arsenal, Ole tidak memiliki cara atau taktik untuk membongkar pertahanan. Demikian pula ketika dibantai oleh Tottenham Hotspur, awalnya Jose Mourinho menerapkan taktik sebagaimana biasanya bermain sabar dan konsentrasi pada pertahanan. Mou hanya mengubah menjadi bermain menyerang ketika MU kehilangan Martial oleh karena terkena kartu merah.

Singkatnya, MU tidak memiliki pemain yang bisa bermain bersama membogkar pertahanan. Diperlukan pemain atau taktik yang bisa bermain di antara ruang-ruang kosong yang sempit di area pertahanan lawan. Bermain satu-dua dengan cepat adalah salah satu cara. Pemain-pemain MU tidak terbiasa bermain seperti ini, terutama bila dimotori pemain seperti Pogba yang cenderung menahan bola terlebih dahulu. Celah yang terbuka untuk menerobos dengan umpan cepat akan tertutup bila pemain menahan bola.

Ketidakmampuan bermain cepat satu dua sambil menerobos pertahanan akan kelihatan dengan pemain-pemain MU yang hanya bisa mengumpan ke samping atau ke belakang saja. Bisa terlihat pada laga melawan Arsenal kemarin malam, pemain depan MU tidak terbiasa menerima umpan dengan langsung melakukan satu dua dengan rekannya di depan, baik itu Rashford ataupun Greenwood. Kecendrungannya adalah menahan bola, berupaya meloloskan diri dengan mencoba mengecoh lawan yang melakukan marking. Namun yang acap kali terjadi adalah Rashord atau Greenwood mengembalikan bola ke belakang.

Dengan gerakan terlatih, situasi seperti itu bisa menjadi keuntungan apabila pemain sudah terbiasa melakukan umpan satu dua dengan bermain di ruang kosong. Pergerakan tanpa bola yang tepat dan kemampuan umpan satu dua menjadi kunci memecah kebuntuan dalam rapatnya pertahanan lawan. Man United jelas tidak memiliki pemain, atau tepatnya Ole tidak memiliki taktik seperti itu.

Menjadi lebih berat bagi Ole karena pelatih-pelatih di liga Inggris sepertinya sudah memahami taktik Ole. Frank Lampard, misalnya, saat melawan MU di Old Trafford juga menerapkan bermain sabar, tidak mau mengepung dan menekan terus ke depan. Sebelumnya MU mengalahkan PSG di Paris, bukan tidak mungkin Lampard telah mempelajari pertandingan PSG kontra MU tersebut.

Demikian juga dengan Arsenal kemarin malam, Arsenal bermain sabar, dan cenderung melakukan man-to-man marking ketika MU memegang bola. Praktis MU tidak banyak menciptakan peluang berarti. Dan juga, sebelumnya MU menang besar melawan RB Leipzig. Bisa saja Arteta juga mempelajari pertandingan MU melawan PSG dan Leipzig.

MU menemui kebuntuan ketika melawan tim yang tidak intens menyerang, karena instruksi dari pelatih adalah demikian.  Sebenarnya MU telah memiliki pemain yang lebih biasa dengan permainan menyerang dan mendominasi ala Ajax Amsterdam, yakni Donny van de Beek. Di Ajax de Beek terbiasa bermain mengepung dan menguasai bola, de Beek terbiasa bermain satu dua dalam ruang-ruang kosong yang sempit di area pertahanan lawan. De Beek tidak menjadi pilihan utama MU di liga Inggris, tetapi setiap kali turun bermain terutama ketika Ole mengalami kebuntuan, de Beek selalu bermain baik. Satu tendangan de Beek mengenai tiang dan nyaris menyamakan kedudukan melawan Arsenal kemarin malam, dan itu dihasilkannya dalam kotak penalti Arsenal yang begitu padat oleh pemain.

Apabila Ole tidak bisa menambah taktik yang dikuasai, adalah berat bagi MU untuk mempertahankan posisi empat besar, apalagi menjadi juara. Liga Inggris baru memasuki minggu ketujuh dan MU sudah berselisih sembilan poin dengan pimpinan klasemen sementara Liverpool. Mempertahankan empat besar pada posisi akhir klasemen musim 2020/21 adalah lebih realistis bagi MU apabila MU bermain seperti sekarang ini.

Share this:

Leave a Reply