Apakah Liga Premier Inggris siap dengan “Si Gila” Marcelo Bielsa?

Apakah Liga Premier Inggris siap dengan "Si Gila" Marcelo Bielsa?

Dari apartemennya di atas sebuah toko permen, Marcelo Bielsa mengotaki kembalinya Leeds ke kancah papan atas Liga Inggris. Sekarang pencariannya akan kesempurnaan menghadapi rintangan yang jauh lebih besar.

Kerumunan kecil yang berkumpul di luar bangunan sederhana bertingkat itu menghitung mundur menit sampai pintu terbuka dan pria yang akan menghidupkan kembali Liga Premier musim ini muncul di malam bulan Juli yang mendung. Kesabaran mereka terbalas. Tiba-tiba, Bielsa yang berseri-seri tidak lagi berada di dalam apartemennya, tetapi di halaman belakang yang berdinding batu, melipat kedua tangan dan berpose untuk selfie dengan tetangganya yang memujanya di pasar Yorkshire, bagian kota Wetherby.

Butuh beberapa waktu bagi anggota staf manajer Leeds untuk membujuk pria berusia 65 tahun itu naik mobil dan pergi ke Elland Road untuk pesta promosi yang telah lama ditunggu.

Beberapa saat sebelumnya, kekalahan West Brom di Huddersfield telah menjamin Leeds kembali ke divisi utama untuk pertama kalinya dalam 16 tahun dan semua orang menginginkan bagian kecil dari orang yang akan membuat Liga Premier jauh lebih menarik. Belum lagi mengangkat suasana salah satu kota terbesar di Eropa yang sudah lama tidak memiliki klub sepak bola papan atas.

Leeds memenangkan gelar Divisi Championship musim lalu
Bielsa bersama anak asuhannya di Leeds mengangkat trofi Championship Division

Metode tidak biasa dan tidak pasti Bielsa memastikan bahwa papan atas harus bersiap untuk momen-momen istimewa di lapangan musim ini. Manajer klub lain pada umumnya tidak hidup atau berperilaku seperti Bielsa, tetapi mungkin pemilik salah satu otak taktis paling tajam dalam permainan, orang Argentina ini jauh lebih eksentrik daripada Harry Redknapp.

Howard Wilkinson, manajer terakhir yang menghadirkan gelar liga ke Leeds, pada tahun 1992, adalah seorang pragmatis taktis tetapi, seperti Bielsa, pelatih yang merupakan mantan guru itu memiliki kecerdasan yang hebat, tidak memiliki kepura-puraan dan tidak pernah takut untuk melakukan sesuatu secara berbeda.

Dua pria dengan banyak kesamaan ini terlihat sangat menaruh perhatian pada detail, dengan keyakinan mereka pada disiplin tempat latihan, ketekunan, ketelitian dan pengulangan – terutama latihan off-the-ball – ditakdirkan untuk menciptaan budaya sebuah klub.

Seperti Wilkinson, Bielsa – yang membanggakan diri atas inspeksi detail tempat latihannya, kadang-kadang bahkan menugaskan pemain untuk memungut sampah. Sementara Wilkinson, biasanya, menjawab secara kekanak-kanakan untuk pertanyaan tentang apa yang dulu dia ajarkan, manajer Leeds sekarang ini telah meningkatkan keahlian konferensi pers ke tingkat yang lebih tinggi. Tanggapannya musim lalu terhadap penyelidikan tentang dugaan cedera striker pinjaman asal Prancis, Jean-Kévin Augustin, terbukti instruktif. Ini melibatkan 20 menit, 1.500 kata monolog pada cedera hamstring.

Di sisi positifnya, kata alasan tampaknya tidak muncul dalam kosa kata yang luas dari seorang pria yang percaya wawancara tatap muka adalah “tidak demokratis” dan menahan diri dari menggunakan media untuk mencaci-maki wasit, manajer saingan, fasilitas di bawah standar atau kebijakan transfer klubnya.

Begitu berada di lapangan, segalanya menjadi lebih cepat. Para pemain yang menerapkan ide-idenya beroperasi dalam pertukaran posisi dengan intensitas tinggi yang rumit, mengoper, bergerak, serangan balik cepat dan, di atas semua itu, menekan sehingga sesama pelatih pun sampai terkadang terpesona. Setelah dibimbing oleh juru taktik Argentina ini, Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino telah dikonfirmasi sebagai Bielsaites.

Seperti halnya Manchester City besutan Guardiola, ada corak berbeda dari cetak biru Leeds besutan Bielsa dan dalam cara Pochettino mengarahkan Tottenham bermain – meskipun dengan komposisi pemain yang agak lebih mahal. Tantangan bagi Bielsa dan skuadnya yang relatif murah sekarang adalah untuk mereproduksi, pada level yang jauh lebih tinggi, gaya yang membuat banyak tim Championship terpesona. Ketika kontraknya berakhir pada bulan Juli, ada kekhawatiran salah satu tokoh yang misterius dalam permainan tersebut dapat berhenti, tetapi kesepakatan baru telah disepakati dan pada saat ini hanya memerlukan formalitas atas kertas.

Apa pun yang terjadi dalam beberapa minggu dan bulan mendatang, kerangka kerja yang tepat di mana individu kreatif seperti Pablo Hernández dapat menyihir orang-orang netral – dan pemain lainnya termasuk Kalvin Phillips, Mateusz Klich, dan Liam Cooper telah meningkat tanpa bisa dikenali – mungkin mencerminkan latar belakang terpelajar manajer mereka.

Bielsa berasal dari sebuah keluarga pengacara di Rosario Argentina, yang juga melahirkan arsitek luar biasa, diplomat, dan politisi berprinsip. Otak hebatnya sendiri telah disalurkan hampir secara eksklusif ke dalam taktik sepak bola. Meskipun istrinya, Laura, seorang akademisi, sering bolak-balik antara Inggris dan Argentina, dia dan dua putri dewasa mereka, Iñes dan Mercedes, memiliki kehidupan keluarga yang didominasi oleh sepak bola.

Bahkan dengan standar para pecandu kerja dan orang yang obsesif dengan perfeksionisme tetap membuat Bielsa terlihar berbeda. “Mereka memanggilnya ‘El Loco’ karena dia gila … tapi dia tahu persis apa yang kami butuhkan,” paduan suara penggemar Leeds dalam adaptasi Bad Moon Rising yang dirancang untuk menekankan ikatan simbiosis antara mantan pelatih Newell Old Boys, Vélez Sarsfield, Espanyol, Argentina, Chili, Athletic Bilbao, Marseille, Lazio dan Lille dengan klub yang telah lama bergelut dengan status outsider-nya. “Kita melawan dunia,” kata Cooper. Itu selalu menjadi pesan saya kepada para pemain. Kami adalah satu keluarga besar dan mental kami siap terhadap pengepungan ini.”

Anggapan Leeds melawan dunia secara aktif dipupuk oleh pemilik klub, Andrea Radrizzani, direktur sepak bola, Victor Orta, dan kepala eksekutif, Angus Kinnear. Leeds adalah klub Championship pertama di mana para pemain dan eksekutif setuju untuk penundaan gaji yang signifikan setelah pandemi covid melanda, sebagian besar staf menerima pemotongan hingga £6.000 seminggu. Hal itu telah menyelamatkan pekerjaan 272 staf Leeds sekaligus memastikan barisan pekerja lepas terus dibayar selama lockdown.

Tidak seperti klub tertentu, rasa kebersamaan diantara staf kuat di Leeds. Orta membuat aturan untuk memastikan ulang tahun bahkan staf junior sekalipun diakui dan rasa persahabatan yang langgeng dibangun.

Dewan menganggap pengembangan infrastruktur di luar lapangan sama pentingnya dengan kerangka taktis Bielsa. Rencana sedang dilakukan untuk membuat kampus komunitas Elland Road yang menampilkan tempat pelatihan baru senilai £25 juta terletak di samping lapangan publik, klinik dokter dan fasilitas lain yang dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi penduduk lokal.

Patung Bielsa di kota Leeds
Patung yang didirikan untuk menghormati jasa Bielsa mengangkat Leeds kembali ke kancah papan atas Liga Inggris

Judith Blake, pemimpin dewan kota Leeds, bekerja sama dengan Kinnear dan perusahaannya untuk menerapkan skema ini. “Ketika Leeds melakukannya dengan baik, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Anda dapat merasakan perubahan suasana hati di kota pada berbagai tingkatan,” katanya. “Marcelo tidak hanya menangkap imajinasi para penggemar, tetapi juga seluruh kota.

“Ini bukan hanya gaya permainan sepakbola yang fantastis di Leeds atau bagaimana Marcelo berhasil mendapatkan 10% lebih banyak dari para pemain; itu pendekatannya secara keseluruhan. Dia menyadari pentingnya para penggemar dan bagaimana permainan menjadi tidak berarti tanpa mereka. Itu adalah hasrat dan dedikasinya, perhatiannya yang cermat terhadap detail dan juga kesederhanaannya. Kami sangat beruntung memiliki dia.”

Tentunya menarik menunggu pasar taruhan sepakbola menempatkan Leeds di urutan berapa dalam barisan tim yang berpeluang merengkuh gelar Liga Inggris musim 2020-21.

Penulis: Hotmas Parin

Share this:

Leave a Reply