SATU dasawarsa lalu, Jose Mourinho sebelumnya pernah memberi komentar tajam atas kualitas dan kemampuan Team Nasional (Tim nasional) All Star Indonesia. Saat itu, 2013, Mourinho datangkan team bimbingannya, Chelsea, hadapi pemain bintang Indonesia.
Pertandingan itu usai dengan “pembantaian”. Tim nasional Indonesia All Star kalah mutlak 1-8 dari tamunya. Beberapa media Inggris bahkan juga menyebutkan Chelsea tidak mendapatkan faedah apa pun itu dari latih tanding tersebut.
Jose Mourinho
Komentar tajam Mourinho melaju dalam pertemuan jurnalis sehabis pertandingan pertemanan. Jika perlu penghalusan, komentar ini dapat dibaca sebagai saran—meskipun anjuran yang menampar.
Mourinho pada waktu itu menyarankan pemain Indonesia tampil dengan nafsu dan kebanggaan tinggi waktu bela timnas.
“Kualitas terbaik timnas ialah bermain-main dengan semangat tinggi untuk negara, kebanggaan besar kenakan baju dan sebagai wakil negara, dan itu dapat membuat Anda semakin kuat dari kekuatan Anda,” kata Mourinho
Pelatih Tim nasional U-23 Indonesia waktu itu, Rahmad Darmawan, menyebutkan hasil tanding dengan Chelsea sebagai mimpi jelek. Hasil yang didapatkan di luar prediksi sama sekalipun. “Ini score di luar sangkaan saya, di luar penghitungan,” kata Rahmad dalam artikel yang serupa di harian Kompas.
Dalam bayang-bayang Rahmad, pemain Indonesia dapat merepotkan team Chelsea. Yang terjadi, beberapa pemain justru hilang fokus, akselerasi, dan kecepatan. Di sini, kelanjutan komentar Mourinho memperoleh konteksnya.
“Walaupun kekuatan Anda tidak khusus dan musuh lebih bagus dari Anda, bila bermain-main dengan kebanggaan besar bela negara, kalian beberapa langkah di muka,” tutur Mourinho.
Rahmad juga lalu mengaku jika beberapa pemain Indonesia yang masih belum senang jadi pesepak bola. Walau sebenarnya, katanya, kebanggaan tersebut yang hendak tumbuhkan sikap professional yang itu masih tetap menuntut Kerja Keras, disiplin jaga keadaan fisik, disiplin latihan, dan istirahat.
Dia memperjelas harus ada perkembangan dan pembaruan dalam persaingan kita. “Tapi semua perlu proses dan waktu. Untuk menampung bakat-talenta yang banyak, janganlah sampai dilalaikan pembimbingan berusia muda karena dari sanalah kelak cerminan beberapa pemain senior kita,” tutur Rahmad.
Sebagai foto, pada waktu itu gawang Tim nasional Indonesia telah kecolongan 20 gol dalam beberapa laga pertemanan dengan team tamu dari Eropa, sepanjang periode 2 bulan. Beberapa tamu itu ialah Tim nasional Belanda, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea.
Satu dasawarsa berlalu semenjak pertandingan dengan Chelsea dan team-team Eropa itu, Tim nasional U-22 Indonesia baru menyembahkan medali emas dari gelaran SEA Game. Itu ialah gelar yang didapatkan interval 32 tahun dari medali emas awalnya di gelaran yang serupa.
Tetapi, narasi jaya Indonesia ya baru hanya tersebut. Kadang-kadang saja ada hasil pada tingkat Asia Tenggara. Pada tingkat Asia dan dunia, tingkat Indonesia kemungkinan baru memiliki cita-cita.
Erick Thohir
Sekarang, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Semua Indonesia (PSSI) Erick Thohir datangkan Tim nasional Argentina. Kabarnya, pemain dengan prestasi pleno Argentina, Lionel Messi, jadi sisi tim yang dijanjikannya tiba.
Erick menyebutkan, pertandingan ini sebagai usaha menimpa psikis pemain Indonesia. Ia juga ingin memperlihatkan jika PSSI di bawah kepimpinannya betul-betul akan serius membenahi persaingan dalam negeri.
Ketertarikan calon pemirsa tidak boleh ditanyakan. Bahkan juga Mourinho juga satu dasawarsa lalu mengaku masalah yang ini. Mendekati pertandingan Indonesia Versus Argentina, pemasaran ticket habis dalam beberapa saat di setiap kali peluang dibuka.
Sesudah hasil di SEA Game 2023, kedatangan Argentina—dengan janji kesertaan Messi pula—tentulah sebuah penghiburan besar sehabis ketidakberhasilan Indonesia jadi tuan-rumah Piala Dunia U-20.
Walaupun demikian, 60.000 ticket yang dilego untuk pertandingan Indonesia Versus Argentina punyai satu pesan tambahan. Pesan itu ialah amanat untuk hapus citra kabur Indonesia di dunia sepak bola—terutama—selepas bencana Stadion Kanjuruhan.
Masalah penyelenggaraan acara internasional, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan pengalaman. Terbaru sebelumnya ada balapan Formulasi E di Jakarta, sesudah Indonesia jadi tuan-rumah dan punyai circuit standard MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Tetapi, laiknya peribahasa hujan satu hari hapus panas satu tahun, ketidakberhasilan dan kekurangan condong lebih membekas dalam daya ingat public dibandingkan catatan prestasi dan kesuksesan. Cuma stabilitas perkembangan dan prestasi yang kemungkinan dapat kembalikan dan jaga yakin sekalian harapan.
Tim nasional Indonesia direncanakan melayani Tim nasional Argentina pada 19 Juni 2023 di Stadion Khusus Gelanggang olahraga Bung Karno, Jakarta. Sebelumnya, Tim nasional Indonesia semakin lebih dahulu hadapi Tim nasional Palestina di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur pada 14 Juni 2023.