Chelsea Memecat Frank Lampard

Chelsea memecat Frank Lampard sedikit banyak telah membenarkan keputusan transfer Manchester United yang dianggap tidak populer. Chelsea membeli pemain secara besar-besaran di Liga Premier musim panas lalu, cukup signifikan lebih besar dibandingkan dengan pembelian oleh Man Utd. Namun hasil laga yang diraih Manchester United pada pekan lalu, lebih menetapkan kemampuan sebenarnya Man United dalam meraih gelar. Rintisan tim era baru oleh Solskjaer telah menambahkan sebuah nama pelatih elit yang telah ia kalahkan selama menukangi MU.

Kemenangan melawan Liverpool di Piala FA menunjukkan kelemahan yang dimiliki tim Klopp ini, karena Liverpool yang kurang aktif dalam pembelian pemain telah dikalahkan oleh MU yang lebih aktif.

Adapun Man City kurang meyakinkan dalam laga FA minggu lalu, tetapi yang terpenting, akhirnya bisa menang melawan tim kecil dari League Two. Namun berbeda nasib dengan Frank Lampard yang memenangkan laga melawan Luton di Piala FA dan tetap dipecat oleh Chelsea.

Dipecatnya Lampard oleh Chelsea minggu ini tidak diragukan lagi akan memecah belah penggemar di Stamford Bridge untuk beberapa saat. Bagi beberapa orang, dia mewakili legenda klub yang belum diberi cukup waktu di klub, dan bagi yang lain Lampard adalah manajer tidak berpengalaman yang seharusnya tidak pernah dipekerjakan sejak awal. Namun, mengingat begitu banyak uang yang dihabiskan musim panas lalu, tidak banyak yang bisa membantah fakta bahwa Chelsea kurang berprestasi sejauh musim ini.

Jadwal pertandingan yang padat dan klasemen liga yang rapat bisa memberikan mitigasi di paruh musim ini dengan The Blues yang berkinerja buruk terpaut hanya lima poin di belakang Liverpool yang berada di urutan keempat. Namun itu masih belum cukup baik mengingat sejumlah £ 222,48 juta yang mereka habiskan untuk pemain baru di musim panas.

Meskipun hasil yang tidak konsisten tidak sepenuhnya disebabkan oleh Lampard, pelatih yang tahun lalu dinominasikan sebagai Manager of The Season liga Inggris dengan finis di urutan keempat dan tidak memenangkan apa pun, tampaknya tak terelakkan bahwa dialah yang akan membayar akibatnya. Sepertinya sudah lama sekali, tetapi sebagian besar penggemar United prihatin dengan kurangnya pembelian pemain pada musim panas lalu dimana Solskjaer terlambat untuk menandatangani lima pemain baru pada tenggat waktu, memperkuat kedalaman skuad mereka tetapi bukan starting eleven.

Sedangkan Chelsea mendatangkan Kai Havertz, Timo Werner, Hakim Ziyech, Ben Chilwell, Edouard Mendy dan Thiago Silva. Kontras dengan MU yang menambahkan Donny van de Beek, Edinson Cavani secara gratis, Alex Telles dan dua pemain sayap kanan remaja yang masih belum terbukti.

Baca juga: https://www.bolakukus.com/liga-inggris/mu-kini-dibandingkan-mu-terakhir-meraih-gelar/

Mereka mungkin tidak memenangkan jendela transfer musim panas, dan itu sepertinya tidak populer dengan beberapa penggemar, tetapi nyatanya MU memiliki peluang lebih baik untuk memenangkan trofi pada musim ini.

Pembelian besar seperti Chelsea sewajarnya akan menimbulkan masalah memadukan pemain. Lampard berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari para pendatang baru dan merumuskan sistem yang akan memberikan yang terbaik dari bakat menyerang barunya. Memadukan pemain-pemain baru dengan pemain yang sudah ada di klub seperti Mason Mount, Christian Pulisic, Tammy Abraham dan Callum Hudson-Odoi semuanya menambah PR bagi Lampard untuk menjaga semangat pasukan Chelsea tetap tinggi.

Sementara di Old Trafford fokusnya adalah membuat penambahan yang cerdas karena Solskjaer berusaha memperkuat talenta mereka yang sudah ada di klub, dibandingkan dengan meminggirkan mereka dengan memainkan rekrutan baru yang lebih mentereng. Cavani telah merevolusi serangan dengan fisikalitas dan kemampuan membaca permainan di depan, Van de Beek memungkinkan gelandang lain untuk diistirahatkan dan Telles telah menginspirasi kemampuan terbaik dari Luke Shaw.

amad diallo MU

Amad Diallo belum bisa menjadi jawaban jangka panjang di sayap kanan, tetapi tidak seperti pemain muda di Chelsea, dia tidak perlu dengan segera membuktikan dirinya di lapangan. Pada akhir bursa jendela musim panas, klub United menegaskan kembali kegembiraan mereka karena telah menambahkan ‘pengalaman dan kepemimpinan’ ke skuad muda mereka, dengan tambahan pragmatis Cavani yang disamakan dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic ketika itu. Mungkin tampak menggelikan pada saat itu, tetapi nyatanya ini adalah strategi transfer yang sudah menuai hasilnya.

Aktivitas transfer United yang stabil mencerminkan pertumbuhan stabil mereka sendiri di bawah Solskjaer, dengan klub sekarang menemukan ritme mereka setelah menahan godaan untuk memecahkan rekor pembelian klub pada musim panas lalu. Sebaliknya, Lampard meninggalkan Chelsea dengan rasio poin-per-pertandingan liga Inggris terburuk dari manajer mana pun di bawah Roman Abramovich, risiko yang mereka hadapi dengan mempertaruhkan begitu banyak uang pada jendela transfer. Kedatangan manajer Thomas Tuchel seharusnya menandai fajar baru di Stamford Bridge, tetapi jika terus mengulangi kesalahan yang sama, jarak antara Chelsea dan United hanya akan terus bertambah.

Sumber: soccernet

Share this:

Leave a Reply